Home 150 Hiburan 150 Info Sehat 150 Peran BKKBN dalam menanggulangi masalah Kanker Servik melalui Program Kesehatan Reproduksi

Peran BKKBN dalam menanggulangi masalah Kanker Servik melalui Program Kesehatan Reproduksi

kanker-serviksBKKBN sebagai lembaga pemerintah yang diamanatkan dalam tugas dan fungsinya untuk berperan aktif dalam mensosialisasikan kesadaran dan kepedulian remaja mengenai Kesehatan Reproduksi, Program Pendidikan Kesehatan Reproduksi begitu penting dilakukan dan diharapkan dapat menjangkau seluruh institusi pendidikan formal dan non formal, tak terkecuali pendidikan diruang lingkup perguruan tinggi dengan program utama “Pendidik dan Konselor Sebaya yang ramah remaja melalui PIK (Pusat Informasi dan Konseling) Remaja dan Mahasiswa.

Program Pendidikan Kesehatan Reproduksi begitu penting dilakukan terutama mengenai masalah Kanker Servik atau Kanker dinding rahim. Dikarenakan jumlah penderita Kanker di indonesia sangat tinggi, terlihat dari data yang publikasi oleh pemerintah maupun lembaga-lembaga kanker Indonesia, Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dirilis oleh Dinas Kesehatan menyebutkan bahwa prevalensi tumor/kanker di Indonesia adalah 1,4 per 1000 penduduk atau sekitar 330.000 orang, Kanker tertinggi di Indonesia pada perempuan adalah Kanker payudara dan kanker serviks. Berdasarkan estimasi Globocan, Internasional Agency for Research on Cancer tahun 2012, Indeks kanker serviks mencapai 17 per 100.000 perempuan, sedangkan menurut Data Sistem Informasi Rumah Sakit tahun 2010, kasus rawat inap kanker serviks mencapai 5.349 kasus (12,8%). (sumber: dinkes.go.id)

BKKBN melalui Direktorat Kesehatan Reproduksinya memberikan materi tentang penyuluhan kesehatan terutama pengenalan terhadap kanker serviks yang merupakan salah satu kanker paling umum yang menyerang organ reproduksi wanita, Beberapa jenis human papilloma virus, suatu infeksi menular seksual, mempunyai peran penting dalam kebanyakan kasus kanker serviks.

Kanker serviks yang terjadi pada servik uterus (suatu daerah pada organ reproduksi wanita) yang merupakan pintu masuk ke arah rahim yang terletak antara uterus (rahim) dengan liang vagina.

Pada umumnya, kanker bermula pada saat sel sehat mengalami mutasi genetic yang mengubahnya dari sel normal menjadi sel abnormal. Sel sehat tumbuh dan berkembang dengan kecepatan yang teratur. Sel kanker tumbuh dan bertambah banyak tanpa control dan mereka tidak mati. Adanya akumulasi sel abnormal akan membentuk suatu massa (tumor). Sel kanker menginvasi jaringan sekitar dan dapat berkembang dan tersebar di tempat lain di dalam tubuh (metastasis).

Penyebab langsung dari karsinoma serviks belum diketahui. Faktor ekstrinsik yang diduga berhubungan dengan insiden karsinoma serviks adalah infeksi virus Huma Papilloma Virus (HPV). Lebih dari 95 % kanker serviks berkaitan erat dengan infeksi HPV  ditularkan melalui aktivitas seksual. HPV tipe resiko rendah  (tipe 6 & 11) hampir tak berisiko menjadi Ca Serviks, tapi menimbulkan genital warts. Infeksi tipe risiko tinggi (tipe 16 & 18) mengarah pada Ca Serviks (Hartono, 2000).

Faktor risiko kanker leher rahim dapat disebabkan oleh:

  1. Kontak seksual terlalu dini yaitu usia kurang dari 15 tahun
  2. Berhubungan dengan banyak pasangan atau berganti-ganti pasangan
  3. Faktor Keturunan yang menjadi dominan terjadinya kanker serviks bahkan untuk faktor keturunan mempunyai resiko 2x lebih banyak dari pembawaannya.
  4. Kekebalan tubuh yang menurun juga dapat mengakibatkan terjadinya kanker serviks.
  5. Pembersihan vagina dengan antiseptik atau deodoran yang terlalu sering
  6. Diet tinggi lemak dan kekurangan vitamin C, asam folat serta beta karoten
  7. Serta kurangnya menjaga kebersihan diri.

Program Pencegahan dengan SKRINING (Deteksi dini)

Program skrining kanker serviks dengan metode IVA sudah dilaksanakan di Propinsi Kalimantan Barat sejak tahun 2010. Salah satu upaya untuk meningkatkan cakupan skrining dengan melatih bidan dan dokter umum di puskesmas untuk talaksana skrining dengan metode IVA. Hingga tahun 2013 sebanyak 49 dari 238 puskesmas di 13 kabupaten/kota, 46 dari 286 dokter umum di puskesmas, dan 62 dari 2169 bidan yang baru dilatih skrining kanker serviks dengan metode IVA.  (Kemenkes RI 2010).

Jika kanker serviks terdeteksi pada stadium yang lebih awal, penatalaksanaan sepertinya lebih berhasil. Skrining kanker serviks regular dan perubahan prekanker pada serviks direkomendasikan untuk semua wanita. Kebanyakan panduan menganjurkan skrining pertama dalam waktu 3 tahun pertama setelah aktif secara seksual, atau tidak lebih dari umur 21. Skrining dapat berupa.

  1. Pap test. Selama Pap test, dokter mengambil sel dari serviks – leher sempit dari uterus- dan mengirim sample tersebut ke lab. Sel ini kemudian diperiksa ada tidaknya abnormalitas. Pemeriksaan Pap Test dapat mendeteksi sel abnormal pada serviks. Stadium prekanker terjadi pada saat sel abnormal terdapat hanya pada lapisan luar dari serviks dan tidak menginvasi bagian lebih dalam. Jika tidak ditangani, sel abnormal ini dapat berubah menjadi sel kanker, dimana dapat menyebar pada beberapa tempat sekitar serviks, vagina bagian atas, area pelvis, dan bagian lain dari tubuh. Kanker atau prekanker yang ditemukan pada stadium preinvasif jarang membahayakan nyawa dan biasanya hanya membutuhkan pengobatan rawat jalan.
  2. Tes HPV DNA. Terdapat juga pemeriksaan HPV DNA untuk menentukan apakah seseorang terinfeksi salah satu dari 13 jenis HPV yang sepertinya paling mungkin menyebabkan kanker serviks. Seperti pada Pap tes, tes HPV DNA mengambil jaringan dari serviks untuk diperiksa di lab. Pemeriksaan ini dapat mendeteksi strain resiko tinggi HPV pada DNA sel sebelum perubahan pada sel serviks dapat terlihat.

Pemeriksaan HPV DNA bukan merupakan pengganti skrining Pap dan tidak digunakan untuk wanita lebih muda dari 20 tahun dengan hasil Pap yang normal, kebanyakan infeksi HPV pada wanita pada kelompok ini sembuh sendiri dan tidak dikaitkan dengan kanker serviks.

PENCEGAHAN

Resiko terjadinya kanker serviks dapat dilakukan dengan menghindari infeksi HPV. HPV menyebar melalui kontak kulit dengan bagian badan yang terinfeksi, tidak hanya dengan hubungan seks. Menggunakan kondom setiap melakukan hubungan dapat mengurangi resiko terkena infeksi HPV.

Sebagai tambahan dari penggunaan kondom, cara terbaik untuk mencegah kanker serviks yaitu :

  • Menghindari hubungan sex pada umur muda.
  • Memiliki partner seks tunggal
  • Menghindari merokok

Pemeriksaan PAP RUTIN.

Pemeriksaan PAP SMEAR secara rutin adalah cara paling efektif untuk mendeteksi kanker serviks pada stadium yang lebih dini. Panduan jadwal Pap rutin adalah sebagai berikut :

  • Pap Smear pertama dilakukan pada 3 tahun pertama setelah hubungan sex pertama atau pada umur 21 tahun (lakukan yang mana terjadi duluan)
  • Dari umur 21 hingga 29 tahun, lakukan pemeriksaan Pap rutin setiap satu atau 2 tahun sekali.
  • Dari umur 30 hingga 69 tahun, Pemeriksaan Pap setiap 2 atau 3 tahun jika pasien memiliki 3 kali berurutan pemeriksaan Pap yang normal.
  • Umur 70 keatas, jika 3 pemeriksaan Pap Smear negative maka Pap smear sudah dapat dihentikan.

About bangfad

Bangfad - Seorang blogger yang sering kehilangan ide menulis saat didepan komputer, telah lama belajar website yang saat itu masih bernama "homepage" hingga berubah nama menjadi "blog" namun sampai sekarang masih terlihat "cupu" namun tetap mencoba eksis di dunia Blog dan Review.

Check Also

Masalah Payudara atau Payudara Sakit

Payudara adalah organ tubuh wanita yang paling disenangi, baik itu dari segi bentuk maupun manfaatnya, ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *