Home 150 Review 150 Film Edukasi Mimpi Ananda Raih Semesta (MARS) Terbaik

Film Edukasi Mimpi Ananda Raih Semesta (MARS) Terbaik

Film Edukasi Mimpi Ananda Raih Semesta (MARS) Terbaik
Film Edukasi Mimpi Ananda Raih Semesta (MARS) Terbaik

Berawal dari pasangan suami istri yaitu Surip (Teuku Rifnu Wikana) seorang buruh pemecah batu, dan Tupon (Kinaryosih) seorang perempuan lugu dan buta huruf tapi punya keinginan kuat untuk menyekolahkan anaknya setinggi mungkin agar jadi orang yang pintar. Sekar Palupi kecil (Chelsea Riansy) pada awal masuk sekolah suka bolos dan malas untuk pergi ke sekolah, karena sering diejek oleh teman sekolahnya, hingga akhirnya Sekar dikeluarkan dari sekolahnya.

Sang anak, Sekar Palupi (Chelsea Riansy/ Acha Septriasa) lahir dari rahim seorang ibu yang berani berjuang demi sebuah pendidikan. Walau tidak tergambar dengan jelas sikap pantang menyerah dari Sekar Palupi. Menurut saya, inilah titik lemah film ini. Sekar Palupi digambarkan anak yang tidak percaya diri ketika duduk dibangku SD. Beberapa kali bolos dari sekolah dan terlibat perselisihan dengan teman sekelas yang mengakibatkan Sekar Palupi dikeluarkan dari sekolah. Tidak jelas karena apa Sekar Palupi di keluarkan, hanya ada penggambaran satu adegan dimana Sekar Palupi menggenggam pensil ketika terjadi perselisihan.

Konflik film ini didapat hanya pada saat adegan ketika ada kepala dusun yang menawarkan seorang duda beranak satu yang ingin menikahi Sekar (Acha Septriasa), disini ejekan dan cibiran dimulai ketika simbok menyampaikan penolakan Sekar akan pinangan tersebut dengan alasan ingin melanjutkan kuliah.

Ketika Sekar dan simbok menuju kota Malioboro untuk mencari rumah Paklenya yang berada di Malioboro, tanpa sengaja menemukan dompet yang ternyata adalah milik istri ustad Ngali (M. Cholidi Asadil ALam), dari sinilah awal cikal bakal kemudahan Sekar melanjutkan kuliah. Sekar memperoleh beasiswa dari sebuah universitas di Jogjakarta.

Baca Juga: UNTAN Membangun Ekosistem Digital Menuju Cyber University

Gunung Kidul yang dijadikan latar MARS, berbicara banyak dalam film ini. Fakta bahwa Gunung Kidul adalah daerah miskin di Indonesia, sangat terlihat dalam film ini, namun tak terasa terlalu dilebih-lebihkan. Lihat saja bagaimana Tupon yang nyeker alias berjalan tanpa alas kaki ke mana pun ia pergi. Atau kala Tupon harus menjual kambing yang ditukar dengan setumpuk uang lecek, modalnya membeli seragam sekolah untuk Sekar. Hal ini terlihat begitu kontras dengan setting lain film MARS, yakni London.

Film MARS menandai debut penyutradaraan Sahrul Gunawan. Ia berhasil membawa Gunung Kidul dan segala permasalahannya menjadi begitu dekat dengan penonton. Ia juga sudah memiliki visi yang jelas mengenai visualisasi yang diinginkannya dalam film ini. Hasilnya, gambar-gambar cantik bertebaran di MARS.

Hanya saja, ada satu masalah mendasar dalam MARS. Film ini kerap mengambil jalan pintas untuk menyelesaikan problem dalam plot cerita. Contohnya saja, saat Sekar tak bisa mendaftar sekolah. Di puncak ketegangan ini, saat penonton mengantisipasi bagaimana Sekar bisa bersekolah, tiba-tiba saja di adegan selanjutnya masalah ini selesai hanya dengan satu kalimat dari Tupon. Yakni bahwa mereka banyak dibantu oleh seorang ustad di desanya.

Ada beberapa kasus lain dalam MARS, di mana sebuah persoalan diselesaikan lewat jalan yang mudah, yakni pemaparan. Terutama lewat dialog.

Padahal dalam sebuah storytelling, ada satu kunci emas yang ada baiknya dipegang erat setiap penutur dalam karyanya baik dalam bentuk tertulis atau sinema—yakni show, don’t tell. Perlihatkan, jangan dijelaskan. Pengalaman penonton dalam menginterpretasi setiap laku dan emosi aktor, akan membuat mereka merasa lebih terlibat, dibanding dengan langsung disuapi dengan isi cerita.

Meski begitu, MARS masih berhasil memagut hati penonton. Terutama, di bagian akhir cerita, kala tokoh Sekar bertemu dengan seorang mbok tua di kampungnya. Di sini, Sahrul berhasil mengaktifkan kunci show, don’t tell dengan baik. Hasilnya, adegan ini menjadi gong yang sangat manis dan emosional dalam film MARS.

Dirilis berdekatan dengan Hari Pendidikan Nasional, yakni 4 Mei 2016, film MARS adalah sebuah film yang ramah untuk seluruh anggota keluarga, dan mampu menginspirasi tentang pentingnya nilai edukasi. Siapa tahu, penonton akan tergerak untuk bisa sekuat Tupon, atau menjadi Sekar berikutnya. (Sumber:KalbarBisa)

About bangfad

Bangfad - Seorang blogger yang sering kehilangan ide menulis saat didepan komputer, telah lama belajar website yang saat itu masih bernama "homepage" hingga berubah nama menjadi "blog" namun sampai sekarang masih terlihat "cupu" namun tetap mencoba eksis di dunia Blog dan Review.

Check Also

Jasa Pembuatan Website Pontianak

Media Promosi di Era Digital tidak lagi terpaku dengan media massa seperti koran, majalah, radio …

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.